Dengan ketersediaan kayu yang melimpah, banyak terdapat industri pengolahan kayu di Indonesia. Di Pulau Jawa saja pabrik pengolahan kayu-kayu lokal seperti albasia, mahoni, dan pinus mencapai hampir lebih dari 250 perusahaan. Beberapa industri tersebut berlokasi di Kabupaten Purbalingga. Keberadaan industri pengolahan kayu ternyata menghasilkan limbah kayu yang tidak sedikit. Walaupun disebut sebagai limbah, tetapi pada kenyataannya hasil buangan pabrik-pabrik pengolahan industri kayu dapat memberikan manfaat dan nilai lebih. Salah satunya adalah dengan memanfaatkannya sebagai bahan bangunan.
Sebagai bahan bangunan, selama ini limbah kayu dijadikan kayu laminasi atau kayu lapis (barecore). Nilai tambah ekonomi dari usaha ini memicu timbulnya industri-industri rumah tangga yang berkonsentrasi pada kayu laminasi. Di Kabupaten Purbalingga, Desa Kalitinggar Kecamatan Padamara menjadi pusat bagi perkembangan industri yang satu ini.
Tanggap terhadap fenomena yang terjadi, Tim Pengabdian Masyarakat dari Jurusan Teknik Sipil Unsoed yang terdiri dari Gathot Heri Sudibyo, S.T., M.T., Dr. Nor Intang Setyo Hermanto, S.T., M.T. dan Dr. rer.agr. Ir. Djeimy Kusnaman, M.Sc.Agr (dari Agribisnis Unsoed) tergerak untuk membagikan keahlian mereka pada masyarakat melalui kegiatan Iptek Bagi Produk Unggulan Daerah (IbPUD). Kegiatan dilakukan dengan melakukan pelatihan dan pendampingan di lokasi UKM UD Berkah Limbah Kayu (BLK) yang bergerak dalam bidang kayu laminasi pada tanggal 4 Oktober 2017. UKM UD Berkah Limbah Kayu adalah sebuah usaha home industri di Desa Kalitinggar, Kecamatan Padamara, Kabupaten Purbalingga dan dipimpin oleh Bapak Kiswanto Suwanto.
Pada kesempatan tersebut, Gathot menyampaikan bahwa potensi limbah kayu sangat besar manfaatnya jika dapat dioleh menjadi barang yang lebih berguna. Selain dapat dibuat sebagai barang (bahan) bangunan dengan berbagai variasi, usaha pemanfaatan limbah ini juga dapat mengurangi sampah yang terbuang dan dapat meningkatkan kesejahteraan masayarakat.
Menyambung pendapat dari Gathot, Nor Intang memberikan pengetahuan, pemahaman, dan peningkatan ketrampilan untuk teknik laminasi dari bahan kayu. Disampaikan bahwa proses pembelahan, pengeringan, permukaan bahan, pengeleman, dan pengempaan (press) akan sangat mempengaruhi kualitas laminasi. Oleh karenanya pengontrolan terhadap kualitas kayu yang akan dilem sangat penting, di samping proses laminasi itu sendiri. Berkaitan dengan hal tersebut, maka pengetahuan akan penggunaan peralatan yang baik dan benar juga menunjang hasil produksi kayu laminasi.
Di lain sisi, seringkali di dalam menjalankan usaha skala kecil, pelaku usaha hanya menjalankan dengan cara kebiasaan yang sering dilakukan atau hanya mendahulukan aktifitas–aktifitas yang terlihat di depan mata saja. Padahal ada hal-hal lain yang tidak terlihat dan menjadi poin penting dalam mata rantai usaha yang seharusnya juga mendapat perhatian dari pelaku usaha. Di sini Djemy Kusnaman menyampaikan bahwa diperlukan langkah-langkah yang sistematis dari penyediaan bahan baku sampai dengan produk setengah jadi yang diminta pelanggan, termasuk perencanaan untuk masa yang akan datang, seperti kapasitas, tata ruang, kualitas dan penyimpanan (gudang).
Lebih lanjut untuk mendukung program kegiatan dalam upaya meningkatkan jumlah dan kualitas produksi kayu laminasi Tim Pengabdi IbPUD telah memberikan bantuan berupa alat belah kayu (gang rip), mesin planner, dan mesin gergaji circular. Dengan bantuan peralatan dan pelatihan serta pendampingan diharapakan dapat meningkatkan usaha UKM BLK pada khususnya dan UKM-UKM lain di sekitarnya menjadi lebih trampil dan kreatif dalam menciptakan diversifikasi produk menjadi barang jadi. Terlebih diharapkan akan terjadi peningkatan produk dengan pemasaran yang lebih besar dengan jangkauan yang lebih luas demi peningkatan kesejahteraan masyarakat. (ed.PH)